Periksa lagi pondasi rumah kita

11 November, 2015

image

Pernahkah kita memikirkan tentang pondasi rumah kita? Apakah sama rumah yang dibangun di atas ketaatan dengan yang di atas hawa nafsu?

Jika rumah itu adalah bangunan fisik yang dibina dengan batu, dinding dan atap, mungkin perlu renovasi besar yang menghabiskan biaya besar untuk memperbaiki dan memperkokoh pondasinya.

Untungnya rumah bukanlah sekadar bangunan fisik. Sejatinya ia adalah bangunan jiwa. Apabila ia perlu perbaikan, maka renovasi yang perlu dilakukan adalah perbaikan jiwa.

Akan tetapi perbaikan jiwa tidaklah semudah perbaikan fisik. Ia memerlukan keikhlasan dan kelapangan hati. Untuk memperbarui niat dan mengazamkan tekad. Memelajari lagi ilmunya dan bersabar dalam membina.

Karena sabar bukan melulu di atas musibah dan takdir. Tetapi sabar yang utama ada di atas ketaatan dan kebersamaan. Semoga Allah memberkahi.

@nd, 28011437


rumah bibi berantakan

7 Maret, 2013

messyroomAnak-anak sering pergi bermain ke rumah Bibi, begitu kami memanggil orang yang membantu pekerjaan rumah tangga di rumah kami, begitu Bibi selesai dengan urusan pekerjaan. Selain bercerita tentang bermain dengan ayam dan dengan anak-anak keponakan Bibi, anak-anak juga sering menceritakan kondisi rumah bibi yang sederhana. Komentar mereka seakan-akan mengharapkan agar orang tuanya dapat membagikan sesuatu buat Bibi dan keluarganya. Sehingga tak jarang kami berbagi dengan Bibi dan keluarganya dari kelebihan karunia yang diberikan Allah.

Tsuraya, dalam kesempatan menghabiskan plafon 2000 kata per harinya di malam hari sebelum tidur, menyebutkan, “Rumah Bibi berantakan.” Bubunya menanggapi, “Mengapa rumah Bibi berantakan?”

“Barang-barangnya banyak,” jawab Tsuraya. “Bibi gak sempat membereskan rumahnya, ya?” tanya Bubu. “Iya, Bibi capek,” Tsuraya menjawab sambil memainkan sendok di gelas teh manisnya. “Mengapa Bibi capek?” Bubu balik bertanya. “Bibi capek beresin rumah Tsuraya,” jawab Tsuraya.

“Kasihan ya, rumah Bibi berantakan. Karena capek, Bibi gak sempat membereskan rumahnya sendiri,” Baba menimpali disambut dengan jawaban, “Iya,” setuju Tsuraya. “Kalau begitu, Bibi kita berhentikan saja, supaya tidak capek, dan bisa membereskan rumahnya sendiri. Bagaimana?” tanya Baba.

Tsuraya menjawab, “Nanti, yang beresin rumah Tsuraya, siapa dong?”

***


%d blogger menyukai ini: