susahnya membuat janji

27 Desember, 2010

Barangkali judul ini bertentangan dengan kebiasaan manusia mengenai “susahnya memenuhi janji”, namun kenyataannya demikian. Beberapa tahun yang lalu Telkom Indonesia pernah membuat iklan layanan masyarakat dengan gambaran  kerinduan seorang kakek dengan cucunya. Si kakek datang jauh-jauh dari kampung halaman menuju ke kota tempat tinggal anak dan cucunya. Dalam guyuran hujan, ia tiba di rumah buah hatinya yang sangat dirindukan itu, tetapi sayang sekali tidak seorang pun yang menyambutnya bahkan untuk memberi kehangatan. Rumah yang ditujunya terkunci karena ditinggalkan oleh anak dan cucunya yang sedang bepergian sekeluarga. Saat itu, pentingnya penggunaan telepon untuk menyampaikan kabar dimasyarakatkan oleh perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia.

Saat ini, dimana berbagai kemudahan ditawarkan oleh para penyedia jasa telekomunikasi, baik lewat telepon, telepon genggam, maupun internet, sewajarnya setiap orang mudah menyampaikan kabar, bahkan untuk membuat janji bertemu. Masih ada saja yang mengandalkan datang langsung, alias go show dengan alasan keseriusan. Akibatnya dia dapat saja tidak diterima dengan baik, entah karena orang yang dituju sedang ada kesibukan atau sedang memenuhi janji yang lain.


simcard only

18 Mei, 2010

Di Amerika Serikat tidak sebarang orang boleh memiliki kartu sim tanpa membeli handphone. Harga hape terbilang murah karena diikat kontrak dengan kartu sim. Sehingga untuk membawa hape keluar untuk menggunakan kartu sim lain, hape harus di-unlock terlebih dahulu. Sedangkan di Inggris, kondisi mirip di Indonesia, di mana diberi kebebasan bagi konsumen memilih apakah membeli hape yang berkontrak dengan penyedia kartu sim, atau cukup membeli sim saja dengan pulsa isi ulang.

Begitu banyak penyedia layanan GSM yang menawarkan kemudahan bagi para pengunjung berupa telepon murah ke tujuan internasional. Dan kartu sim itu juga menyediakan layanan gartis panggilan dan sms sesama pengguna kartu sim yang sama. Mirip-mirip lah dengan di Indonesia 🙂

Untuk melakukan panggilan ke telepon rumah atau CDMA di Indonesia, saya hanya dipotong 10p (0.1 poundsterling) per menitnya. Sayangnya saya juga harus membayar harga yang sama untuk 1 buah sms yang saya kirimkan 😦

Menggunakan kartu sim lokal, jika tersedia, merupakan pilihan bagi saya mengingat roaming internasional dengan menggunakan kartu sim Indonesia cukup mahal, baik memanggil apalagi menerima. Lagipula walaupun sim saya disediakan oleh perusahaan dan mendapat jatah sekitar Rp350 ribu sebulan, biaya komunikasi selama di luar negeri tidaklah ditanggung oleh perusahaan, alias potong gaji jika berlebih dari jatah. Yah, sedikit runaway dulu dari urusan kantor lah :p


%d blogger menyukai ini: