tentang dai

16 November, 2011

Bismillah,
Miris memang membaca kenyataan tentang audisi dai di televisi, bahkan ada artikel yang mempertanyakan mengapa tidak ada audisi untuk pendeta, pertanyaan itu terjawab dengan sebuah tertawaan: “Menjadi pendeta ada sekolahnya, Bung. Di seminari, bukan di televisi.”

Melihat betapa orang Islam yang mengikuti audisi dai di televisi, kebanyakan di antara mereka miskin ilmu, hanya bermodalkan buku agama, menghapalnya lalu menyampaikannya kepada khalayak. Sebaliknya ada juga para santri yang menekuni ilmu agama sejak kecil, mengenyam bangku pesantren, sampai duduk di majelis para ulama timur tengah namun sekembalinya mereka ke tanah air, kekayaan ilmu yang telah diperolehnya tidak disampaikan kepada umat, atau justru ikut-ikutan audisi dai dan tenggelam dalam industrialisasi hiburan di televisi. Menggenapi nubuat Rasulullah tentang banyaknya para pengkhutbah di akhir zaman dan hilangnya ilmu di tengah-tengah umat.

Ada juga pemuda-pemuda yang dengan semangat bergabung dalam kelompok dakwah, tidak membekali diri dengan keilmuan agama, bahkan mengabaikan hal-hal yang pokok, padahal terdapat kaidah: “barangsiapa yang tidak menguasai pokok-pokok ilmu maka ia tidak akan mampu menguasai ilmu.” Akhirnya mereka hanya ikut-ikutan pendahulunya, lebih mengutamakan amal jama’i daripada amal bil ilmi. Bahkan ada sebagian kelompok yang karena kebodohan mereka sampai mengafirkan umat Islam dan melakukan teror. Sehingga apabila kelompoknya bubar (dengan sendirinya ataupun dibubarkan oleh pemerintah), mereka kelimpungan tak tahu arah kemana melangkahkan kaki. Alih-alih insyaf dari kesalahannya, menutup mata dari majelis taklim, maka kembali kepada keadaannya semula yang jahil dari ilmu, kembali memuaskan hawa nafsu. Naudzu billahi min dzalik.

Ada lagi pemuda-pemuda yang dididik oleh pendidikan moderen, melihat dakwah dengan cara moderen, mengernyitkan mata dari kajian kitab-kitab salaf, lebih menjunjung metode berpikir khalaf, kemudian membuat-buat bidah baru atau merekonstruksi bidah-bidah lama dengan pijakan yang salah tentang hadits “man sanna sunnatan”. Maka ketika dakwah mereka mengawang-awang dan tidak lagi berpijak, mereka pun kehilangan pegangan, menerima semua konsep dan membenarkannya lalu hidup dalam kebingungan. Alih-alih insyaf dari kesalahannya, menutup mata dari majelis taklim, maka mereka mempersalahkan yang tidak dapat menerima pemikiran mereka, kembali memenuhi anggapan hawa nafsu. Naudzu billahi min dzalik.

Namun ada di antara umat yang tetap konsisten dan konsekuen terhadap jalan yang dirintis oleh 3 generasi terbaik umat Islam, berpijak pada pokok-pokok yang benar, tegas dan tidak bimbang, berdakwah dengan hikmah, ikhlas dalam beramal, tanpa pamrih maupun bergeming pada godaan kursi, berakhlak mulia dalam pergaulan.  Mereka duduk memenuhi majelis taklim, mengaji kitab-kitab salaf, menghadiri jamuan ilmu para ulama, terbimbing dalam berdakwah, berhujah dengan dalil dan pemahaman yang sahih saja. Mereka menghidupkan sunnah dan mematikan bidah dalam setiap gerak ibadah maupun kesehariannya, menjadi asing di tengah dunia, dan tidak dilirik oleh siapapun kecuali oleh orang-orang yang berhati jernih.

Allah-ul-musta’an


bahagia tanpa televisi

10 April, 2008

boleh dibilang televisi ada manfaat dan mudaratnya, tetapi sejauh ini mudaratnya jauh lebih besar daripada manfaatnya. tidak seperti khamar yang pada akhirnya diharamkan oleh Tuhan, televisi adalah sebuah alat yang tergantung dari penggunaannya. penyalahgunaan televisi dapat menyebabkan statusnya berubah dari boleh menjadi haram. seperti halnya pisau, boleh digunakan untuk memotong bahan makanan, tetapi haram digunakan untuk membunuh manusia 🙂

sejak awal kami mencoba meminimalisasi keberadaan televisi di rumah. tetapi orang tua kami terlalu sayang sehingga meminjamkan salah satu televisinya untuk kami, supaya gak ketinggalan zaman, kata mereka. padahal alat mengejar ketinggalan zaman tidak melulu televisi, dapat saja berupa surat kabar, atau internet 🙂 tetapi sebenarnya alasan utamanya adalah untuk menyenangkan hati mereka apabila datang ke rumah kami, karena ada saja sinetron yang sulit dilewatkan oleh mama atau acara yang disenangi oleh papa.

lepas dari kehadiran ortu, kotak televisi itu lebih sering nongkrong membisu di atas bufet jati di ruang keluarga rumah kami. kadangkala kami gunakan televisi untuk memutar dvd atau vcd yang bertema pendidikan usia dini, keluarga atau film aksi yang kami beli dari toko. sebenarnya selama ini keperluan menonton film itu dipenuhi dengan komputer, tetapi sejak raka putra kami yang berusia 2 tahun itu senang menonton film kartun anak-anak, kami merasa perlu menambah perangkat DVD player supaya ia tidak mengganggu ibunya yang sedang menyelesaikan pekerjaan desain rumah pesanan klien.

sempat ketika hari-hari diisi oleh hujan sehingga raka tidak dapat bermain keluar, ia pun disibukkan dengan menonton postman pat, cars, thomas and friends, atau baby genius.

sampai saat ini, kami berhasil memanfaatkan televisi dan mengambil manfaat dari kebisuannya. karena kami dapat lebih sering ngobrol sesama anggota keluarga, atau beraktivitas yang menghangatkan hubungan antara ayah-ibu-anak, serta terhindar dari pengaruh buruk televisi. alhamdulillah.

apalagi jika kedapatan acara yang berisi gosip, kekerasan, atau berita buruk, makin membuat kami berusaha menjauhi televisi. kami merasa bahagia tanpa televisi, kami dapat mengembangkan filter kami lebih rapat lagi dan kami dapat membuat rancangan aktivitas keluarga lebih menyenangkan, sebisa mungkin tanpa keterlibatan televisi.


kekerasan di sekitar kita

22 Mei, 2004

gak habis-habisnya kalo bicara tentang kekerasan, dan gak habis juga heranku mengapa terlalu banyak orang yang suka dengan kekerasan. Sebut saja televisi, kotak ajaib ini terlalu sering mengumbar informasi tentang kekerasan, seakan-akan tidak ada dunia yang tidak berisi kekerasan. Mulai dari informasi patroli, buser, kupas tuntas, derap hukum, sinetron-sinetron, film-film, hingga acara lawak pun berbumbu kekerasan.

Pernah nonton film “How to Create a Monster” ? film ini bercerita tentang ambisi sebuah perusahaan game komputer untuk membuat game console yang canggih. Mereka menciptakan monster game yang diramu dengan keserakahan, kebencian, kekerasan, dan kelicikan para pencipta karakternya. pada suatu malam, energi listrik yang dibawa oleh petir telah merusak server komputer perusahaan game tersebut, dan saat itulah, karakter monster hidup dan membunuh para penciptanya. yang berhasil bertahan hanyalah seorang cewek magang yang tadinya lugu dan baik. Dengan usaha yang dicapainya, ia berhasil mengalahkan karakter dan menyempurnakan game hingga dapat dipasarkan. Ia belajar bahwa hidup memang keras.

Masih ingat cerita rakyat, bawang putih dan bawang merah? atau cerita Cinderella? ternyata kekerasan telah melekat dalam jiwa kita dengan cerita masa kanak-kanak itu.

bagaimana dengan berita-berita di televisi: praktek aborsi, penganiayaan terhadap pembantu, pemerkosaan, incest, pembunuhan, pencabulan, dan sebagainya… seperti tak ada rasa aman dalam kehidupan sekitar kita?

Sejarah selalu terisi dengan kekerasan dan pertumpahan darah, inilah sebabnya para malaikat bertanya kepada Tuhan ketika Dia hendak menjadikan manusia sebagai kalifah bumi: “Mengapa Engkau jadikan di bumi orang-orang yang suka berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, sedangkan kami terus mengkuduskan Engkau?”

Tapi Tuhan ternyata punya kehendak atas segala kekerasan itu, seperti kata-Nya: “Dialah yang menjadikan kematian dan kehidupan guna mengetahui siapa yang lebih baik amalnya di antara kamu”.

Sebaiknya informasi kekerasan biarlah sebagai informasi saja, jangan perlakukan ia sebagai santapan keseharian, saya khawatir jika sudah jadi santapan, kekerasan akan merasuki kita sehingga membangkitkan potensi kerusakan dalam diri kita. Ya Allah, damaikanlah hati kami dalam kecintaan kepada-Mu yang mencintai kedamaian.


%d blogger menyukai ini: