Terjemah Aqidah Wasithiyah – 05

27 Juli, 2012

TERJEMAH AL-AQIDAH AL-WASITHIYYAH

Penulis: Asy-Syaikh Al-Islam Taqiyyuddin Ahmad Ibn Abdul Halim Ibn Taimiyyah

[sebelumnya]

{Penetapan sifat Cinta bagi Allah terhadap para Wali-Nya dengan kecintaan yang sesuai dengan kebesaran-Nya}

Dan firman-Nya: “Berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Albaqarah: 195)

“Dan berbuat adillah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.” (QS Al-Hujuraat: 9)

“Maka apabila mereka berlaku lurus kepada kalian, hendaklah kalian berlaku lurus kepada mereka. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (QS At-Taubah: 7)

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS Albaqarah: 222)

Dan firman-Nya: “Katakanlah: ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.'” (QS Ali Imran: 31)

Dan firman-Nya: “Maka kelak didatangkan oleh Allah suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (QS Al-Maidah: 54)

Dan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur laksana mereka sebagai bangunan yang tersusun kukuh.” (QS As-Shaf: 4)

{Penetapan sifat Rahmat dan Pengampun bagi Allah}

Dan firman-Nya: “Dan Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Welas Asih.” (QS Al-Buruj: 14)

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS An-Naml: 30)

“Wahai Tuhan kami, sungguh meliputi segala sesuatu yaitu rahmat dan ilmu Engkau.” (QS Al-Mu’min: 7)

“Dan Dia, kepada orang-orang beriman, adalah Maha Menyayangi.” (QS Al-Ahzab: 43)

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS Al-A’raaf: 156)

“Telah ditetapkan oleh Tuhan kalian atas diri-Nya rasa kasih sayang.” (QS Al-An’am: 54)

“Dan Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yunus: 107)

“Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Penjaga. Dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS Yusuf: 64)

{bersambung, Insya Allah}


Terjemah Aqidah Wasithiyah – 02

25 Januari, 2012

TERJEMAH AL-AQIDAH AL-WASITHIYYAH
Penulis: Asy-Syaikh Al-Islam Taqiyyuddin Ahmad Ibn Abdul Halim Ibn Taimiyyah

[sebelumnya]

6. Dan Allah subhanahu wata’ala sesungguhnya telah mengumpulkan ke dalam sifat-sifat-Nya dan menamakan diri-Nya dengan sifat-sifat itu, antara penafian dan penetapan. Maka tidaklah keluar dari perkara tersebut, Ahlussunnah wal Jama’ah, terhadap apa-apa yang datang dari para rasul; maka sesungguhnya inilah jalan yang lurus, jalannya orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah atas mereka dari golongan para nabi, orang-orang yang shiddiq, para syuhada, dan orang-orang shalih.

7.  Dan sesungguhnya masuk kepada kalimat ini (penafian dan penetapan) apa-apa yang disifatkan oleh Allah bagi diri-Nya di dalam surat Al-Ikhlash yang pahalanya menyamai sepertiga Alquran, Allah berfirman:

“Katakanlah: Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah tempat bergantung (kepadanya) segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula menjadi anak. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS Al-Ikhlash: 1-4)

 [Allah menetapkan bagi diri-Nya bahwa Dia Maha Esa, dan sebagai tempat bergantung segala sesuatu yaitu harapan, doa, cinta, dan rasa takut. Allah menafikan bagi diri-Nya memiliki anak, menafikan bahwa dia sebagai anak, menafikan adanya sesuatupun yang setara dengan-Nya. ed]

8. Dan di antara apa yang Allah sifati bagi diri-Nya adalah pada ayat yang paling agung di dalam Kitab-Nya, yakni ketika Allah berfirman:

“Allah adalah Dzat yang tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia, yang Mahahidup lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan Dia apa yang terdapat di langit dan apa yang terdapat di bumi. Tidak seorang pun yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya. Yang paling mengetahui apa yang berada di hadapan mereka maupun di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dari ilmu-Nya melainkan sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa terbebani memelihara keduanya. Dan Dia Mahatinggi lagi Mahaagung.” (QS Al-Baqarah: 255)

Oleh karena itu, barangsiapa yang membaca ayat ini pada malam hari maka senantiasa ia akan mendapatkan penjagaan dari Allah dan setan tidak bisa mendekatinya hingga masuk pagi.

{bersambung, Insya Allah}


Terjemah Aqidah Wasithiyah – 01

22 Januari, 2012

TERJEMAH AL-AQIDAH AL-WASITHIYYAH
Penulis: Asy-Syaikh Al-Islam Taqiyyuddin Ahmad Ibn Abdul Halim Ibn Taimiyyah

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

1. Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar diunggulkannya di atas seluruh agama dan cukuplah Allah sebagai saksi.

2. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang patut disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, yaitu dengan pengikraran dan penuh ketauhidan.

3. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, semoga shalawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepadanya dan kepada keluarganya juga para sahabatnya dengan keselamatan yang berlebih.

Amma ba’du:

4. Maka [yang akan disebut dalam risalah] inilah i’tikad golongan yang selamat yang mendapat pertolongan hingga datangnya hari kiamat: Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Yaitu beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, kebangkitan setelah kematian, dan iman kepada takdir baik dan takdir buruk.

5. Dan termasuk bagian iman kepada Allah adalah: beriman kepada sifat-sifat yang disebutkan oleh Allah di dalam kitab-Nya, dan kepada sifat-sifat yang disebutkan oleh rasul-Nya tanpa melakukan tahrif [menyimpangkan sifat-sifat Allah (di dalam Alquran dan Assunnah) kepada makna-makna batil yang bukan makan sifat itu], tidak pula ta’thil [meniadakan sifat-sifat ilahiah dan mengingkari keberadaan sifat-sifat itu pada zat Allah], dan tidak melakukan takyif [meyakini sifat Allah berbentuk demikian atau mempertanyakan bentuknya], dan tidak pula tamsil [meyakini sifat Allah seperti sifat makhluk].

Melainkan mereka (Ahlussunah wal jamaah)   beriman bahwasanya Allah: “Tidak ada sesuatupun yang menyerupai dengan-Nya, dan Dia Maha mendengar dan Maha melihat” (QS Asy-Syura :11)

Maka mereka (Ahlussunah wal jamaah) tidak meniadakan dari Allah sifat-sifat yang disifatkan-Nya untuk diri-Nya. Tidak pula mereka menyimpangkan pembicaraan dari tempat (yang semesti)nya. Tidak pula menyimpangkan dan mengingkari pada nama-nama Allah dan ayat-ayat-Nya. Tidak pula membagaimanakan dan tidak pula menyerupakan sifat-sifat-Nya seperti sifat makhluk.

Yang demikian karena Mahasuci Allah dan tidak ada tandingan (yang berhak untuk dinamai dengan) nama-Nya [yakni dengan nama yang memiliki makna hanya khusus bagi Allah, yang tidak sesuatupun yang menyamai-Nya], tidak memiliki pihak yang sekufu (setingkat) dengan-Nya, tidak ada lawan bagi-Nya, dan tidak boleh dikiaskan dengan makhluk-Nya, Mahasuci Allah lagi Mahatinggi.

Maka sesungguhnya Mahasuci Allah yang paling mengetahui akan diri-Nya dan yang selain daripada-Nya, dan paling benar perkataan-Nya, dan paling bagus ucapan-Nya dibandingkan dengan makhluk-Nya.

Kemudian para rasul-Nya adalah orang-orang yang benar (jujur) dan dibenarkan, berbeda dengan orang-orang yang mengatakan pada permasalahan ini dengan apa-apa yang tidak mereka ketahui. Oleh karena itu Allah berfirman:

“Mahasuci Tuhanmu, Tuhan yang memiliki keperkasaan, dari apa-apa yang mereka sifatkan. Dan kesejahteraan dilimpahkan bagi para rasul. Dan segala puji-pujian hanyalah milik Allah Tuhan seru sekalian alam. (QS As-Shaffat 180-182)

Dengan demikian Allah telah mensucikan diri-Nya dari apa-apa yang disifatkan kepada diri-Nya oleh orang-orang yang menyelisihi (menentang) para rasul. Dan Dia menyelamatkan para rasul; karena selamatnya apa yang mereka ucapkan dari kekurangan dan aib.

{bersambung, Insya Allah}


%d blogger menyukai ini: