tentang superhero

16 September, 2015

Nak, kamu suka sekali nonton superhero? Tahukah kamu mengapa superhero itu terlihat begitu hebat?

Di antara mereka ada yang sangat kuat, ada yang sangat cepat, ada yang sangat lentur, ada yang bisa terbang, ada yang pakai perkakas, menunjukkan bahwa mereka itu serba bisa.

Kebanyakan superhero mengenakan topeng dan kostum aneh. Mereka takut ketahuan identitasnya ketika sedang beraksi. Berupaya ikhlas secara pribadi tapi haus publisitas dengan topengnya.

Para superhero itu, melakukan segalanya sendirian. Hampir-hampir tanpa bantuan. Kalau saja mereka bersama-sama tentu banyak konflik kepentingan. Mereka tak mampu bekerja sama.

Kamu lihat juga, tak satupun di antara superhero yang menikah. Kalaupun ada hanya seumur jagung. Mereka pandai bercinta tapi tak pandai mengelola cinta. Mereka tak suka komitmen.

Superhero itu potret inferior kita. Ingin tampak hebat, walau tidak benar-benar hebat. Ingin selalu dipuji, walau tak berani tampil terpuji. Ingin sendirian dan bebas dari tanggung jawab.

@nd, 02121436


pembatas reaksi dan organisasi

1 November, 2014

di dalam reaksi kimia, “limiting reagent” atau reagen pembatas adalah unsur yang sepenuhnya habis pada saat reaksi kimia selesai. jumlah produk yang terbentuk akan sejumlah reagen pembatas yang tersedia, karena reaksi kimia tidak dapat dilanjutkan tanpa keberadaan reagen tersebut.

reagen pembatas benar-benar membatasi reaksi. jika pada akhir reaksi terdapat sejumlah reagen lainnya yang tidak bereaksi dengan reagen pembatas, maka disebut sebagai reagen tersisa.

di dalam peperangan, kereta yang ditarik oleh 12 ekor kuda akan terbatas kecepatannya oleh kuda yang paling lambat. sekencang apapun lari kuda-kuda lainnya, jika ada kuda yang lebih lambat maka kereta kuda tidak akan dapat berlari lebih cepat daripada kecepatan kuda yang lambat tersebut. kuda ini disebut sebagai pembatas kecepatan. selisih kecepatan kuda-kuda lainnya yang tidak terpakai disebut sebagai potensi tersisa.

di dalam paduan suara atau orkestra, irama dan tempo akan ditentukan di awal. setiap fungsi suara atau alat musik akan menyesuaikan dengan irama dan tempo yang ditetapkan. hal ini dilakukan dalam rangka menghasilkan nada yang harmoni. “noise” atau suara yang berbeda akan menghasilkan ketidakharmonian paduan suara atau orkestra.

di dalam organisasi, kemajuan dan pencapaian tim akan bergantung kepada seberapa besar upaya yang dilakukan oleh anggota tim. jika ada salah seorang anggota yang lebih lemah tentu akan mempengaruhi besaran hasil yang diperoleh.

organisasi yang berorientasi profit secara alamiah akan bekerja lebih profesional dibandingkan organisasi non profit. akan tetapi organisasi non profit dapat bekerja lebih baik apabila menetapkan tujuan dan motivasi pada level yang tinggi.

tim yang profesional akan mempersilakan kepada anggota yang merasa tidak mampu mengikuti irama langkah yang telah ditetapkan untuk mundur. karena mempertahankannya akan menimbulkan banyak permakluman atau “excuse”. sementara semua permakluman yang diterima akan membuat pencapaian target tidak optimal.

kecuali jika kesenjangan masih dapat ditoleransi, maka tim dapat mengatur irama yang lebih dapat diterima oleh semua anggota. sebaliknya bagi anggota yang memiliki standar lebih tinggi apabila tidak dapat menyesuaikan dengan irama yang lebih rendah akan keluar dari tim dan mencari tim lain yang senada.

ini bukan tentang kebersamaan tanpa syarat, apalagi masalah tega. belajar dari reaksi kimia dan kuda perang, tim yang menjadi reagen pembatas apabila kesenjangannya terlalu lebar akan membuat banyak potensi tersia-siakan. belajar dari orkestra dan paduan suara, nada yang melenceng dari irama dan tempo malah akan membuat tim berantakan.

(08-01-1436)

View on Path


akuarium planet – 1

10 Juli, 2012

“Baba, kita kan jadi pergi ke planet-akuarium, ya?” tanya Tsuraya, 3 thn 9 bln, di sela jalan kaki antara Stasiun Cikini dan Taman Ismail Marzuki (TIM), jarak yang cukup jauh bagi anak sekecil itu untuk berjalan kaki tanpa digendong dan menikmatinya dengan berbagai dialog. “Bukan planet-akuarium, adek, Planet-arium! Emangnya planet itu ikan ya, Baba?” sanggah dan konfirmasi Radya, si kakak 6 thn 2 bln, yang juga menikmati perjalanan bermotor sejak dari rumah menuju Stasiun Pondok Cina dilanjut ber-KRL Ekonomi. Sesampainya di Planetarium, hanya pintu kantor saja yang buka. Ternyata, setiap hari Senin fasilitas pengunjung ditutup untuk perawatan.

“Is-ma-il-mar-zu-ki,” Radya mengeja tulisan di bawah patung kepala, “itu patung kepala orang ya, Baba?” saat kami keluar dari halaman TIM. “Iya, nak. Dia adalah salah satu penyair Indonesia yang karya-karnyanya menggugah rasa kebangsaan rakyat negeri ini,” jawab Baba. “Ayo, itu Bubu dan adik-adik sudah menunggu di depan.” Naik Kopaja P20 turun di Jalan Pegangsaan Timur, menikmati KFC Kids Meal dan mainan Spiderman Swing, lalu kembali ke Depok dengan KRL Komuter yang perbedaannya dengan KRL Ekonomi hanyalah AC dan pintu gerbong.

(bersambung)


%d blogger menyukai ini: