pilih mana?

19 November, 2014

Pilih mana?

Menjadi nasabah gold sebuah bank internasional dengan fasilitas platinum dan peroleh kartu kredit premium free annual fee dengan syarat penempatan dana segar minimum Rp500 juta pada deposito fleksibel untuk 3 bulan bertaraf bunga 7,75%.

Atau tawaran penempatan dana minimum Rp8 juta pada deposito berjangka 3 bulan bertaraf bunga 7,75% di sebuah bank regional?

Hmm…

View on Path


uang lebaran

8 Agustus, 2014

Lebaran adalah masa bersuka cita, termasuk bagi kanak-kanak. Bertemu sanak saudara dan handai tolan meramaikan silaturahim. Turut pula momen bagi-bagi uang lebaran. Uang cetakan terbaru dengan nilai mata yang beraneka dikumpulkan satu persatu dari paman, bibi, kakek dan nenek.

Sebagaimana kanak-kanak lain memanfaatkan uang lebaran untuk membeli benda kesukaannya, begitupun anak kami. Setelah selesai menghitung dan memilah pendapatan masing-masing, Toys Kingdom di Living Plaza Cinere menjadi pilihan jitu tempat membelanjakan uang lebaran.

Sebelum berangkat, Baba dan Bubu mengingatkan anak-anak agar memilih mainan hanya yang paling disukai dan mencermati harganya. Baba atau Bubu tidak akan menomboki jika harga mainan lebih besar daripada uang lebaran yang dikumpulkan, tetapi mereka boleh berutang jika perlu.

Di toko anak-anak langsung menuju rak mainan. Athiya, 3 tahun, memilih mainan boneka bayi 1 set dengan perlengkapan mandi serta stiker. Tsuraya, 6 tahun, memilih 1 set boneka barbie, 1 set boneka penata rias dan rambut, dan pola pakaian barbie. Sedangkan Radya, 8 tahun, memilih 2 set lego hero factory dan 1 set megablocks hotwheels.

Setelah yakin dengan pilihannya, anak-anak menuju kasir untuk membayar dengan uang lebaran masing-masing. Penggenapan kembalian per seribu rupiah disumbangkan untuk sedekah anak yatim, kerja sama antara Toys Kingdom dengan PKPU. Celotehan riang anak-anak tentang rencana mereka dengan mainan yang baru saja dibeli pun mengiringi perjalanan pulang ke rumah.


angry birds dan barbie

13 Februari, 2013

14054638_121010143000Akhirnya tidak tahan juga Radya ingin membelanjakan uang tabungannya. Ketika diajak ke Living Plaza Cinere untuk membeli knock down shelf di Ace Hardware, mampir dulu ke Toys Kingdom untuk melihat-lihat mainan yang bakalan dibeli. “Oke, kalian mau belanja mainan?” tanya Baba disambut anggukan oleh Radya dan Tsuraya yang mulai merengek juga minta dibelikan mainan. “Kalian bawa uang?” Baba bertanya dan dijawab dengan gelengan, kemudian Baba berkata, “Bagaimana kalau hari ini kalian melihat-lihat mainan yang akan dibeli lalu beberapa hari lagi kita datang untuk berbelanja.” Dengan gembira mereka berdua menyahut, “Asyik!” Buru-buru baba menambahkan, “Tapi…, belanjanya pakai uang tabungan kalian dan hanya belanja 1 buah mainan setiap orangnya. Bagaimana?” Radya dan Tsuraya berpandangan lalu bertanya, “Boleh beli mainan apa aja, Ba?” Baba mengangguk setuju kemudian Radya menjawab, “Boleh deh, kan uangnya masih bisa ditabung, ya Ba?”

Di rumah, Radya sudah merencanakan untuk membeli mainan Angry Birds, Tsuraya juga berencana membeli Barbie. Hampir tiap hari membicarakan mainan angry birds dan barbie hingga hari yang dinanti pun tiba. “Ba, kita bawa HotWheels ya,” kata Radya, “buat dimainkan di treknya.” Sesampai di Toys Kingdom, langsung menuju trek HotWheels, sayang cuma bawa 1 mobil-mobilan. “Habisnya tadi HotWheels yang satunya lagi dimainin Tsuraya dan gak kebawa waktu pergi,” Radya menjelaskan. Kemudian Radya melihat-lihat mainan Transformer, senapan mainan, dan sebagainya. Tsuraya juga melihat-lihat mainan anak-anak perempuan, alat make-up, glitters, boneka bayi dan Barbie. Mulanya Tsuraya berminat dengan boneka bayi yang bisa gosok gigi, pipis dan ganti popok, namun ketika pramuniaganya memeragakan menyikat gigi bayi yang putih dan bertanya kepada Tsuraya, “Coba lihat gigi, Kakak!” ia pun mengurungkan niatnya membeli boneka bayi tersebut.

Radya datang membawa kotak mainan Angry Birds yang diincarnya dan menagih uangnya untuk membayar di kasir sementara Tsuraya masih memilih boneka Barbie yang ingin dibeli. Masing-masing dari mereka membawa beberapa lembar uang Rp100 ribuan yang Baba ambil dari uang tabungan mereka kemudian menyerahkannya kepada kasir untuk membayar mainan. Bubu bersama Athiya yang sedari tadi turut menemani berbelanja berkata, “Rawat baik-baik mainannya, ya. Setiap kali selesai bermain jangan lupa membereskan dan menyimpannya kembali.” Radya bertanya, “Besok boleh beli mainan lagi, Bu?” Bubu tersenyum dan menjawab, “Boleh, tapi nanti 6 bulan lagi. Sekarang uangnya ditabung lagi, sehingga cukup untuk belanja mainan 6 bulan kemudian.”


celengan radya

16 Januari, 2013

celengan-1-

“Baba, celengan Radya kan sudah penuh,” kata Radya penuh maksud. “Oya, kalau sudah penuh mau diapakan?” tanya Baba menyelidik. “Nanti kan, celengannya dibuka. Terus uangnya dihitung,” jawab Radya, “lalu bisa dimasukkan ke bank. Iya kan, Ba?” Baba mengomentari, “Boleh dimasukkan ke bank, boleh juga untuk membeli keperluan Radya sendiri.”

-2-

“Baba, buka celengannya dong,” pinta Radya, “kan, sudah penuh nih, gak bisa memasukkan uang lagi.” Baba memeriksa celengan tersebut, “Belum kok, Mas. Mengapa tidak buka sama-sama dengan celengannya adik Tsuraya dan adik Athiya?” “Wah, masih lama,” jawab Radya, “celengannya adik Tsuraya dan adik Athiya masih belum penuh.” Baba menimpali, “Kalau begitu, boleh aja dibuka, tapi Mas sendiri ya?” Radya mengangguk. Beberapa saat kemudian, “Ehhh, gak bisa kebuka, nih Ba!” keluh Radya. Baba mengulurkan bantuan memegang celengan sehingga memudahkan Radya membukanya. Broll! Krincring…! “Wah, uangnya banyak ya, Ba?”

-3-

“Wah, uangnya mas Radya banyak juga ya,” celetuk Baba, “mau digunakan untuk apa, Mas?” Radya menimpali, “Kan, hape Baba, Samsung Galaxy Note, ya?” “Aha, Radya mau beli hape?” tanya Baba disambut anggukan Radya. “Uang Radya, cukup buat beli hape gak?” tanya Radya. “Kalaupun cukup, Radya tetap harus memikirkan beli pulsa. Apa Radya punya uang lagi?” Baba menggali lebih jauh, Radya terdiam.

-4-

“Sepertinya, uang Radya gak cukup deh,” Bubu menyambung percakapan, “Mas Radya perlu 4 buah celengan lagi supaya bisa membeli hape seperti punya Baba.” Radya menjawab, “Kalau begitu, kita buka sekalian celengan adik Tsuraya dan adik Athiya, ya Bu?” Bubu buru-buru menjelaskan, “Hei, itu namanya mengambil hak orang lain. Tidak boleh, mas!” Radya terdiam. Bubu memberi solusi, “Bagaimana kalau mas simpan lagi uangnya, lalu menabung lebih banyak lagi, supaya bisa membeli hape seperti hape Baba?”

-5-

“Ya udah, uangnya buat jajan saja,” tukas Radya. “Lho, kalau dijajanin, nanti malah gak bisa kebeli hapenya dong, Mas?” tanya Baba. “Ya udah disimpan saja,” jawab Radya. “Disimpannya sendiri, atau titip Baba atau Bubu, atau disimpan di bank?” tanya Bubu. “Kalau disimpan di bank, ada yang menjamin uang Radya aman. Kalau dititip ke Baba atau Bubu, maka Baba atau Bubu yang menjamin. Sedangkan jika disimpan sendiri, Radya bertanggung jawab penuh dan jika nanti kehilangan, Radya tidak dapat meminta Baba menggantinya. Bagaimana?” Baba menawarkan pilihan. “Radya maunya disimpan sendiri aja,” pilih Radya.

-6-

“Mas Radya, mau menyimpan uangnya di celengan atau di dompet?” tanya Bubu. “Di dompet aja, Bu. Kan celengannya sudah rusak, tidak dapat dipake lagi,” jawab Radya. “Ngomong-ngomong, uang Radya ini ada berapa sih?” tanya Baba. “Mas mau pake buat jajan, ah,” paling Radya sambil mengambil selembar uang seratus ribuan. “Hei, itu terlalu besar,” Bubu melanjutkan, “Mas boleh saja mengambil uang tabungan mas sendiri untuk jajan, namun secukupnya.”

-7-

“Bagaimana kalau Radya hitung dulu uangnya, supaya Radya dapat memikirkan untuk keperluan apa saja uang sebanyak ini?” Baba mengusulkan. Radya menyetujui sambil menghitung uang yang ada di dalam dompet barunya. “Ada 32,” jawab Radya seketika. “32?” tanya Baba. “Oh, barangkali jumlah lembarannya ada 32 lembar, benar demikian?” timpal Bubu. “Waduh, Mas. Jumlahnya memang 32 lembar, mungkin lebih, tetapi Radya tetap harus tahu berapa nilai tabungan Radya yang tunai saat ini. Kalau Radya tahu berapa nilai rupiahnya, Radya boleh belanjakan sesukanya, seperlunya,” ujar Baba mengarahkan Radya yang disambut dengan antusias.

-8-

Radya menutupi tangisannya pada guling yang dipeluknya memandang dompet barunya yang berisi uang. Baba melihatnya dan bertanya, “Mas Radya, ada masalah apa? Mengapa menangis?” Dengan terisak-isak Radya menjawab, “Kan, Mas hitung uangnya, seribu dua ribu, terus… uangnya kebanyakan… Mas gak bisa hitung lagi… hiks.” Baba tersenyum, “Oh, Radya kesulitan menghitungnya? Mau Baba ajari berhitung uang?” Radya mengangguk kemudian meraih bolpoin dan kertas untuk belajar berhitung.

-9-

“Bubu, pak Muhidin kan gak punya uang,” ujar Radya mengenai tukang ojek langganannya lalu meminta persetujuan ibunya, “Boleh gak, Radya kasihkan (sebagian) uang Radya?” yang disambut oleh senyuman Bubu.


zakat uang: nisab emas atau perak?

15 Agustus, 2012

Uang adalah alat pembayaran yang sah yang ditetapkan oleh pemerintah suatu otonomi atau negara. Uang yang kita kenal saat ini berupa uang kertas maupun uang logam hanyalah uang yang memiliki nilai jaminan (ekstrinsik) bukan nilai intrinsik. Di zaman dahulu uang memiliki nilai jaminan sekaligus nilai intrinsik, karena dibuat dari logam mulia seperti emas dan perak. Baru pada masa belakangan saja muncul uang dengan nilai yang lebih rendah misalnya dari logam perunggu atau tembaga. Pembahasan mengenai sejarah uang dan nilainya cukup panjang lagipula tidak relevan dengan judul di atas.

Di dalam Islam, uang merupakan harta yang wajib dizakati apabila telah terkumpul dalam jumlah tertentu (nisab) dan tersimpan dalam masa satu tahun (haul). Uang yang dikenal pada saat itu adalah dinar yang terbuat dari emas yang beratnya 1 mitsqal (4,25 gram) dan dirham yang terbuat dari perak yang beratnya 7/10 mitsqal (2,975 gram). Nisab dinar adalah 20 dinar sedangkan nisab dirham adalah 200 dirham. Adapun besaran zakatnya adalah 1/40 (2,5%). Kemudian perhiasan emas dan perak mengikuti perhitungan nisab di atas dalam bentuk bobotnya. Emas yang memiliki bobot sebesar 20 mitsqal (85 gram) dan perak yang memiliki bobot sebesar 200 dirham (595 gram) sudah termasuk kriteria wajib untuk dizakati.

Ketika muncul uang dengan nilai jaminan emas atau perak, maka nisabnya mengikuti emas dan perak sebagaimana perhiasan. Permasalahan mulai timbul ketika diterbitkannya fulus atau uang dengan nilai yang lebih rendah daripada emas dan perak. Apalagi di masa sekarang muncul berbagai mata uang dan kurs menambah pelik persoalan zakat. Untunglah emas dan perak masih dipertahankan sebagai komoditas yang diperjualbelikan, sehingga kita masih bisa menghitung zakat uang berdasarkan harga emas dan perak pada hari ini menurut mata uang yang berlaku.

Melihat angka nisab pada saat syariat zakat ditetapkan, dapat diketahui bahwa nilai 1 keping dinar setara dengan 10 keping dirham. Namun di masa sekarang nilai 1 keping dinar sebanding dengan 25 keping dirham [www.logammulia.com] sehingga sebagian ulama kontemporer dengan mempertimbangkan maslahat yang lebih besar kemudian mengiaskan (qiyas) nilai uang yang wajib dizakati adalah yang sudah memenuhi nisab antara emas dan perak mana yang lebih rendah.

Misalnya harga 1 gram emas saat ini setara Rp500 ribu, maka nisabnya adalah Rp42,5 juta. Apabila harga 1 gram perak adalah Rp10,5 ribu, maka nisabnya adalah Rp6,2 juta. Karena nisab perak lebih rendah daripada nisab emas, maka uang yang melebihi Rp6,2 juta (tidak perlu menunggu terkumpul Rp42,5 juta) dan sudah tersimpan selama 1 tahun wajib untuk dizakati.

Tulisan ini sekaligus memperkaya pengetahuan pada tulisan saya sebelumnya mengenai zakat penghasilan di sini dan di sini.


belum terlambat

29 Desember, 2010

Anda sempat membaca tulisan saya tentang naik gaji? Pada tulisan itu saya hanya ingin mengajak Anda kembali melihat bahwa gaji kita (jika beruntung mendapatkan majikan yang memahami time value of money) akan selalu berkejaran dengan inflasi. Kenaikan gaji setinggi apapun pada kenyataannya tetap tergerus oleh inflasi yang terus membubung. Maka untuk menyelamatkan kebuntungan karena salah menabung, perlu dibenahi lagi pilihan investasi yang benar-benar memberikan manfaat bagi hari depan kita. It’s never too late to start 🙂


menghidupkan kembali ukuran dalam Islam

2 September, 2010

“Untuk apa?”, barangkali itulah pertanyaan yang muncul ketika saya menelurkan judul di atas, “bukankah sudah ada konversi?” Bagi kebanyakan orang memang terlihat sepele, dengan adanya teknologi masa kini memungkinkan kita menggunakan konversi bahkan untuk suatu ukuran yang tinggal kenangan. Namun kenyataannya jika dikaitkan dengan ibadah yang nash-nya tertulis jelas dalam bentuk ukuran “kenangan” itu, tentu akan menyulitkan dan pasti akan timbul pertanyaan, “berapa sih konversinya?” Itulah yang saya alami ketika menelusuri takaran zakat fitrah.

Baca entri selengkapnya »


%d blogger menyukai ini: