setiap kejadian adalah ujian

27 Oktober, 2014

setiap kejadian adalah ujian

engkau mendapat karunia, ujian akan rasa syukurmu.

engkau mendapat musibah, ujian bagi rasa sabarmu.

engkau berbagi berkat, ujian atas rasa ikhlasmu.

engkau menumpuk upaya, ujian untuk bentuk tawakalmu.

engkau menanggung amanah, ujian dari hasrat khianatmu.

engkau melihat kebaikan, ujian buat rasa dengkimu.

engkau mendengar tentang bahagia, ujian pada rasa prihatinmu.

engkau menerima kesuksesan, ujian kepada rasa malasmu.

engkau menempuh jalan, ujian agar engkau mampu menikmati setiap butiran debu yang menyempurnakan amalmu.

(02-01-1436)

View on Path


tidak ada jadwal ujian

5 Juni, 2014

Banyak orangtua ikut sibuk ketika musim ujian sekolah. Ayah atau ibu mendampingi anaknya mengulang pelajaran untuk menghadapi ujian. “Besok ujian apa?”, “Nak, ayo belajar!”, “Jangan bikin malu orang tua”, “Ayo kamu pasti bisa!”, dan seabrek kalimat lainnya yang serupa.

Jadwal ujian ditempel di tempat yang mudah terlihat. Dengan begitu orang tua dapat mengingatkan anaknya apa materi yang harus dipelajari. Tak jarang orang tua nimbrung belajar, belum lagi mendapati apa yang dipelajari jauh berbeda, “Aduh, pelajaran anak sekarang, susah ya? Di masa ibu sekolah dulu tidak seperti ini.” Nah lho!

Kebanyakan orang tua ingin anaknya berhasil melalui ujian dengan baik dan memperoleh nilai yang bagus. Segala upaya dilakukan orang tua agar anaknya mau belajar menjelang ujian. Namun sayangnya semua yang dipelajari dengan seketika tidaklah meresap dan sangat mungkin sirna segera setelah ujian selesai.

Di rumah belajar Ibnu Abbas, anak-anak dipersiapkan sepanjang waktu untuk menghadapi ujian. Pada setiap harinya anak-anak dibiasakan murajaah (mengulang) pelajaran di rumah. Apa yang diujikan adalah semua hal yang telah dipelajari dan telah dihapal. Dengan demikian mereka akan terbiasa menghadapi ujian dengan penuh kesiapan walaupun tanpa jadwal.

Lagipula, ujian kehidupan akan selalu kita hadapi sewaktu-waktu tanpa jadwal, bukan?


cacing tanah dan keimanan

31 Maret, 2013

Cacing tanah yang bermanfaat untuk menyuburkan tanah dengan mengurai zat-zat organik, secara tradisional dikenal juga dengan khasiatnya yang seketika meredakan demam. Di dalam literatur Islam, cacing tanah dikelompokkan ke dalam الحشرات  atau binatang melata. Penggunaannya untuk pertanian dan peternakan tidak diragukan kebolehannya. Namun penggunaan cacing tanah untuk dimakan diperselisihkan, karena tidak ada dalil yang tegas mengharamkannya.

Merujuk kepada pendapat yang dianggap lebih kuat, kebanyakan binatang melata diharamkan untuk dimakan oleh seorang muslim. Alasan keharamannya bukan karena menjijikkan, sedangkan kriteria jijik berbeda-beda pada setiap kaum, melainkan karena tidak dapat disembelih. Binatang yang matinya tidak disembelih berstatus sebagai bangkai. Sebagai binatang yang darahnya tidak mengalir, bangkai cacing tanah tidaklah najis. Tetapi Allah telah mengharamkan untuk memakan seluruh bangkai kecuali dua jenis yaitu bangkai hewan air dan belalang.

Bolehnya memakan yang haram hanya dikhususkan pada kondisi darurat. Mayoritas ulama sepakat bahwa keadaan darurat yang dimaksud adalah pada keadaan yang menyebabkan kematian jika tidak memakannya. Kalau masih ada obat lain walaupun reaksi penyembuhannya lambat, tidak dianggap sebagai darurat.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم sangat menekankan umatnya untuk menghindari pengobatan dengan yang haram kecuali sama sekali tidak menemukan obat pengganti yang halal atau diperkecualikan oleh dalil. Di sinilah keimanan seorang hamba diuji. Apakah ia menyerah kepada keadaan dengan memakan obat mujarab walaupun kehalalannya diragukan atau tetap istikamah dalam pendirian imannya, yaitu berobat dengan yang halal dan bersabar menjalani takdir. Semoga Allah memberi pahala.

والله أعلم بالصواب

rujukan tulisan:

1. http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3659-hukum-cacing-sebagai-obat.html
2. http://al-atsariyyah.com/hukum-budidaya-cacing.html
3. http://www.halalmui.org/images/stories/Fatwa/cacing%20dan%20jangkrik.pdf


%d blogger menyukai ini: