Kalau berutang jangan pelit

8 Desember, 2015

Motivasi orang berutang (debitur) bukan melulu untuk memenuhi kebutuhan sandang dan pangan saja. Sebagian besar debitur berutang untuk memenuhi standar hidupnya (utang konsumtif). Sebagian lagi untuk modal usaha (utang produktif).

Sayangnya, tidak sedikit di antara debitur itu adalah orang yang pelit dan tidak amanah dalam utangnya. Di antara indikasinya adalah:

1. Menunda pelunasan utang padahal sudah punya uang, dengan alasan masih jauh masa jatuh tempo, atau mencari-cari alasan lainnya.

2. Membuat akad utang sebagai pinjaman padahal uangnya digunakan sebagai modal usaha, tidak mau memberi bagi hasil.

3. Mengejar-ngejar ketika meminjam, tetapi selalu menghindari tatap muka ataupun tegur sapa ketika belum bisa membayar utangnya.

Padahal sangat berat ancaman perdata dan konsekuensi moral yang akan dipikul debitur. Bahkan, proses pemakaman mayat seorang berutang pun terhalang jika tidak ada solusi jaminan pelunasan utangnya.

Orang yang jujur dengan utangnya, dan tidak pelit tentu akan dimudahkan urusannya. Bisa jadi kreditur akan senang memberikan piutangnya lagi, bahkan mungkin saja membebaskan utang.


tentang KTA

11 September, 2015

Nomor telepon muncul tanpa nama di layar ponsel, ketika diangkat terdengarlah suara perempuan (P) di seberang.

P: “Halo, selamat siang.”

Saya (S): “Selamat siang.”

P: “Pak Eka, saya P dari DBS.”

S: “Oh iya mba P, ada apa ya?”

P: “Bapak sudah dapat penawaran KTA?”

S: “KTA apa itu mbak?”

P: “Kredit tanpa agunan, Pak.”

S: “Oh, pinjaman tunai ya, Mbak?”

P: “Iya, Pak. Kami menawarkan KTA yang cukup ringan bagi Bapak untuk mencicil.”

Biasanya saya langsung tutup atau menolak jika mendapat penawaran kredit semacam ini. Tapi kali ini saya coba sebuah test case.

S: “Mbak, kreditnya bebas riba, tidak?”

P: “Riba? Eh, itu bukannya syariah ya, Pak?”

S: “Mbak tahu riba?”

P: “Ya, tahu lah, Pak. Saya kan muslim.”

S: “Nah, karena mbak seorang muslimah. Saya bertanya apakah KTA yang mbak tawarkan itu bebas riba?”

P: “Maksud Bapak?”

S: “Menurut mbak, riba itu apa?”

P: “Riba itu kan bunga, kan Pak? Wah, kalau KTA, ya pakai bunga, Pak.”

S: “Kreditnya pakai bunga? Jadi menurut mbak, sebagai seorang muslimah, bagaimana?”

P: (terdiam sejenak)
Lalu komunikasi telepon pun ditutup.

***


Orang berutang sering berdusta

7 Mei, 2015

Dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَانَ يَدْعُو فِى الصَّلاَةِ وَيَقُولُ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ » . فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِنَ الْمَغْرَمِ قَالَ « إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ .

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdo’a di dalam shalat:

Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghrom (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak hutang).”
Lalu ada yang berkata kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kenapa engkau sering meminta perlindungan dari hutang?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Jika orang yang berhutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

View on Path


Doa supaya dapat membayar utang

14 April, 2015

41.

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكِ عَمَّنْ سِوَاكَ

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan segala perkara yang telah Engkau halalkan daripada segala perkara yang telah Engkau haramkan. Kayakanlah aku dengan kelebihan Engkau daripada meminta kepada orang lain.

At-Tirmizi 5/560.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعْوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالْحَزَنِ، والعَجْزِ والكَسَلِ، والبُخْلِ والجُبْنِ، وضَلْعِ الدَّيْنِ وغَلَبَةِ الرِّجَالِ

Ya Allah, aku berlindung denganMu dari ditimpa kesusahan dan kedukaan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kedekut dan perasaan takut dan dari desakan utang dan paksaan orang.

Al-Bukhari 7/158.

#hisnulmuslim

View on Path


menunda bayar utang

12 April, 2015

Mengulur-ulur pembayaran utang padahal dia mampu, ini termasuk kezaliman.

View on Path


berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal

13 Februari, 2015

يا رسول الله هل بقى من بر أبوي شيء أبر هما به بعد موتهما قال نعم الصلاة عليهما والاستغفار لهما وإنفاذ عهد هما وصلة الرحم التي لا توصل إلا بهما و إكرام صديقهما

“Wahai Rasulullah – sallallahu alaihi wa sallam, adakah tersisa perbuatan berbakti kepada orang tua yang masih dapat saya lakukan setelah mereka meninggal?”

Rasulullah – sallallahu alaihi wa sallam – menjawab: “Ada. Berdoa untuk mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, memenuhi janji mereka sepeninggal mereka, menyambung tali persaudaraan yang tidak terhubung kecuali melalui mereka, serta memuliakan teman-teman mereka.”

(HR. Ahmad, Al-Bukhari dalam kitab “Al-Adabul Mufrad”, dan Abu Dawud)

View on Path


%d blogger menyukai ini: