good night, sleep tight

7 Maret, 2013

goodnightGood Night, Sleep Tight” adalah frasa yang biasa diucapkan kepada orang-orang yang beranjak tidur oleh kebanyakan orang yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Frasa tersebut juga sering menjadi judul buku anak-anak yang berisi cerita-cerita pengantar tidur. Walaupun frasa “good night” sudah lazim digunakan sebagai ucapan selamat tidur, tambahan frasa “sleep tight” sendiri baru dikenal penggunaannya pada awal abad ke-20. 

Tanpa bermaksud mencari-cari hubungannya, ternyata di dalam dunia Islam, sudah mengenal frasa yang mirip dengan itu. Namun sayangnya cukup mengerikan jika kita tahu siapa yang memopulerkannya pertama kali. Hadits berikut memaparkannya dengan jelas:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ: عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ. فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ
“Setan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga tali ikatan, dimana pada tiap ikatan tersebut dia meletakkan godaan, “Kamu mempunyai malam yang sangat panjang maka tidurlah dengan nyenyak.” Jika dia bangun dan mengingat Allah maka lepaslah satu tali ikatan, jika dia berwudhu maka lepaslah tali yang lainnya, dan jika dia mendirikan shalat maka lepaslah seluruh tali ikatannya sehingga pada pagi harinya dia akan merasakan semangat dan kesegaran yang menenteramkan jiwa. Namun bila dia tidak melakukan itu, maka pagi harinya jiwanya menjadi jelek dan menjadi malas beraktifitas”.[HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Namun apakah dengan demikian عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ yang berarti “Kamu mempunyai malam yang sangat panjang maka tidurlah dengan nyenyak” dapat diartikan sama dengan “Good night, Sleep tight“?

Wallahu ta’ala a’lam.

Bagaimanapun, beberapa faidah yang dapat dipetik dari hadits tersebut diantaranya adalah:

  1. Kita dikabari hal ghaib oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam– yaitu bahwa setan mengikat tengkuk orang yang tidur dengan tiga tali ikatan.
  2. Setiap kali mengikat talinya, setan membisiki dengan ucapan عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ
  3. Untuk melepas ikatan tali setan tersebut, hendaklah ketika bangun kita berzikir kepada Allah diantaranya dengan doa bangun tidur:Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :إذا استيقظ أحدكم فليقل : أَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِي، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوحِيْ، وَأَذِنَ لِي بِذِكْرِهِ

    “Apabila salah seorang di antara kalian bangun tidur, hendaklah ia membaca : ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberikan ‘afiat kepada tubuhku, mengembalikan kepadaku ruhku, dan memberikan ijin kepadaku untuk kembali berdzikir kepada-Nya”. [HR At-Tirmidzi]

  4. Untuk melepas ikatan tali yang kedua adalah dengan berwudhu, dan untuk melepas tali yang ketiga adalah dengan melakukan shalat minimal 2 rakaat dilanjutkan shalat witir jika ia belum mengerjakannya sebelum tidur.
  5. Dengan melakukan aktivitas tersebut, selain melepas ikatan tali setan, bermanfaat untuk menyegarkan dan semangat yang berdampak kepada ketentraman jiwa.
  6. Lalai mengerjakan hal-hal tersebut akan membuat jiwanya jelek dan tidak bersemangat dalam beraktivitas.

Mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk mendawamkan amalan yang ringan namun berdampak luar biasa bagi aktivitas kehidupan dan penghidupan kita tersebut. Wallahu waliyyut taufiq.


boros air, adakah?

5 Maret, 2011

“Jangan boros wahai Sa’ad!” tegur sang Nabi kepada sahabatnya yang sedang berwudhu. “Adakah boros dalam menggunakan air, wahai Rasulullah?” tanya Sa’ad. “Ya, meskipun engkau di sungai yang mengalir,” jawab Nabi.

Dialog yang terjadi antara Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Sa’ad ibn Abi Waqqash ini diabadikan dalam hadits riwayat Ibnu Majah dan Ahmad, kitab Zaadul Ma’ad karya Ibnul Qayyim dan kitab Talbis Iblis karya Ibnul Jauzi, semoga Allah merahmati mereka, para imam kaum muslimin.

Kata “boros” telah maklum diartikan menghambur-hamburkan uang, barang, tenaga dan waktu. Oleh karenanya sahabat yang mulia Sa’ad, semoga Allah meridhainya, mempertanyakan konteks boros dalam penggunaan air.

Secara sadar atau tidak, kita, yang jauh dari masa hidup kedua orang mulia tersebut, sering memboroskan air ketika berwudhu, mandi, dan mencuci. Jikalau para penggiat “go green” mengampanyekan berbagai kegiatan hemat air untuk keperluan mandi dan mencuci, bahkan melakukan terobosan teknologi untuk mendapatkan air bersih dari pengolahan air limbah ataupun air asin, namun itu semua tidak cukup efektif tanpa kesadaran dan kepedulian individu. Maka sesungguhnya Nabi telah mengajak hemat air dimulai dari aktivitas keimanan, yang diharapkan menjadi model dalam kehidupan sehari-hari.

Rasa was-was yang timbul ketika berwudhu, apakah wudhunya sudah sempurna, ataukah wudhunya diterima, beranjak dari minimnya pengetahuan seorang hamba tentang ilmu berwudhu. Bisa jadi ia membuka keran lebar-lebar dengan rasa lebih mantap, atau menyapukan air lebih dari tiga kali pada setiap anggota wudhu, atau berdoa pada tiap-tiap anggota wudhu, bahkan mandi sebagai pengganti wudhu. Seandainya seorang hamba mau belajar tentang wudhu sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah, tentulah ia akan mencukupkan pada apa yang dituntunkan tanpa melebih-lebihkannya, serta menjadikannya kebiasaan baik, maka akan mudah baginya meninggalkan rasa was-was itu.

Tak disangkal mandi dari shower lebih hemat air daripada dari gayung dan bak mandi. Tetapi betapa banyak dari kita merasa lebih mantap mengguyur tubuh dengan gayung daripada shower. Tapi jika sudah merupakan kesadaran, maka lambat laun kita akan meninggalkan gayung untuk mandi beralih kepada shower. Begitupula dengan berwudhu, kenyamanan dengan segayung air akan terasa jika sudah terbiasa.

Nabi mewanti-wanti bahwa boros air tidak dibenarkan walaupun sumbernya berlimpah seperti di sungai yang mengalir. Jika di negeri padang pasir terpaksa menghemat air, maka di negeri tropis dan bahari dengan air melimpah  pun tidak boleh boros air. Jika diterapkan kepada pengertian boros secara umum: maka tidak dibenarkan boros walau banyak uang maupun barang; tidak dibolehkan boros membuang tenaga dan waktu untuk hal-hal yang tidak diperlukan.


Bukaan keran yang besar, Ba!

28 Desember, 2010

Begitulah yang diminta anak saya yang berusia 4,5 tahun saat saya ajari dia untuk berwudhu di tempat wudhu masjid. “Jangan terlalu besar, sayang. Itu namanya boros,” saya menjawab permintaannya. “Tapi orang dewasa itu membuka keran besar-besar, Ba?” tanya anak saya menunjuk seseorang yang sedang berwudhu juga. Walau pakaian orang itu menampakkan kesalihan dan mencirikan seorang penuntut ilmu, mungkin belum sampai kepadanya hadits sahih bahwa Nabi yang mulia telah mengajarkan kita berwudhu secara sederhana yaitu dengan segayung air saja.

Dari Utsman ibn Affan radhiyallahu anhu bahwa dia telah meminta segayung air, maka dituangkan air itu ke tangannya dan membasuhnya tiga kali, kemudian dimasukkan tangan kanannya ke dalam wadah air dan membersihkan mulutnya, lalu membasuh dan membersihkan hidungnya. Kemudian dia membasuh wajahnya tiga kali dan bagian bawah tangannya hingga kedua sikunya tiga kali, mengusap rambut kepalanya dan membasuh telapak kakinya hingga ke kedua mata kakinya tiga kali. Kemudian ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘jika seseorang berwudhu dengan caraku dan mendirikan shalat dua rakaat dengan tidak berbicara dalam sholatnya maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau.'” (HR Al-Bukhari)


[iim] saya tak bisa wudhu

10 Maret, 2009

saya teringat pada seseorang yang sangat berhati-hati dalam beribadah. bahkan dengan kehati-hatiannya itu terlihat berlebih-lebihan. dalam hal wudhu saja ia mengulanginya berkali-kali hingga dirasa pas barulah ia shalat.

sementara itu masih ada orang yang tidak mau shalat karena tidak bisa wudhu. dalam arti, wudhu yang selama ini dipelajarinya dari para ustadz maupun guru agama adalah gerakan wudhu disertai doa-doa tertentu yang ia tidak mampu menghapal doa-doa yang banyak itu.

padahal, Allah memberikan hal yang mudah dalam berwudhu, yaitu dalam QS Al-Maaidah:6.

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.


%d blogger menyukai ini: