puasa itu ringan, salat itu berat

17 Agustus, 2014

T: “ndi, menurut kamu puasa daud itu asyik ga?”

A: “mas, mau puasa daud?”

T: “iya nih, ndi. daripada gue ga pernah makan siang. mending diniatin sekalian aja puasa daud. bagaimana?”

A: “alhamdulillah. bener tuh mas, banyak keutamaannya tuh.”

T: “oh ya? katanya bagus buat penempaan jiwa juga ya?”

A: “bener banget, mas.”

T: “cocok, kan?”

A: “cocok dong. puasa apapun sebenarnya ringan. apalagi buat orang seperti mas yang ga pernah makan siang. justru yang berat, itu salat.”

T: “ah, lu nyindir gue, ndi?”

A: “eh, maksud saya gak begitu, mas. begini, salat itu memang berat bahkan buat yang rajin salat pun. contohnya ketika sedang kerja atau rapat kemudian waktu salat tiba. alih-alih menghentikan aktivitas untuk salat barang 5-10 menit saja, malah meneruskan pekerjaan bahkan hingga waktu salat habis.”

T: “gue akuin, ndi. gue sih, kepingin salat bukan sekadar kewajiban, tapi kebutuhan. mesti datang dari dalam hati agar salat gak asal-asalan.”

A: “iya, mas. Allah bilang bahwa salat itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. yaitu mereka yang yakin akan menemui Tuhan nya dan dikembalikan kepada-Nya.”

T: “gue udah mulai mencoba salat lagi, paling tidak ketika di rumah. sebelum tidur salat isya dulu, dan sebelum berangkat kantor salat subuh dulu. tapi ya itu untuk salat yang lain belum.”

A: “bagus tuh, mas. lanjutkan dengan salat lainnya. semoga Allah memudahkan.”

T: “ajarin gue, ya, ndi.”

A: “insya Allah, mas. barakallahufikum.”


mendulang 1000 salat

28 Februari, 2014

image

Sebagai salah satu dari tiga masjid yang menjadi tujuan utama para peziarah, Masjid Nabawi di kota Madinah memiliki daya tarik luar biasa yang membuat manusia selalu bersemangat untuk salat di dalamnya. Kapanpun kita mendatanginya, kemanapun kita melepas pandangan mata, akan selalu ada orang yang sedang salat di dalamnya. Para peziarah yang mengunjunginya merasa sayang jika meluputkan satu waktupun untuk tidak salat di sana. Maka kebanyakan agenda city tour pun dilakukan di pagi hari, setelah sarapan dan sebelum zuhur. Hal ini demi mendulang nilai yang lebih baik dari 1000 salat.

Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda  : “Satu kali salat di masjidku ini lebih baik dari seribu salat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Satu kali salat fardu di Masjid Nabawi lebih baik dari salat fardu yang kita lakukan dalam 200 hari di masjid lainnya. Oleh karenanya, sangat sulit mendapati tempat kosong di dalam masjid ketika salat fardu ditegakkan sehingga banyak jamaah yang menggelar sajadahnya di halaman masjid untuk salat di sana. Bagi yang mau mendapatkan saf-saf terdepan ketika salat berjamaah, hendaknya telah berada di masjid paling tidak 1 jam sebelum azan.

Tempat-tempat favorit untuk salat di Masjid Nabawi adalah Al-Rawdah, aula depan (bangunan lama), dan saf-saf terdepan di bangunan baru, yaitu tempat-tempat yang tidak pernah sepi dari orang yang salat, membaca quran, berzikir dan berdoa. Akan tetapi kita tidak akan mendapati jamaah perempuan di situ, karena ruang salatnya telah ditentukan berada di bagian belakang. Telah ada hadits dari Ummu Humaid yang menyebutkan bahwa salat seorang perempuan di masjid kaumnya lebih baik daripada salat di Masjid Nabawi. Supaya menjadi perhatian bagi perempuan untuk tidak memaksakan diri ke masjid jika kondisinya tidak memungkinkan.

Bagaimanapun, Nabi pernah menasihati kaum pria untuk tidak melarang perempuan yang mendatangi masjid untuk beribadah. Maka dari itu kita berharap kepada Allah agar jamaah perempuan yang melakukan salat di Masjid Nabawi tetap berpeluang mendulang kebaikan 1000 salat.

Referensi:

Abu Muawiah (2010, October 13). Keistimewaan Masjid Al-Haram dan Nabawi | Al-Atsariyyah.Com. Retrieved February 28, 2014, from http://al-atsariyyah.com/keistimewaan-masjid-al-haram-dan-nabawi.html

Al-Khalafi, A. A. (2004, August 19). Menziarahi Kota Madinah Al-Munawwarah – almanhaj.or.id. Retrieved February 28, 2014, from http://almanhaj.or.id/content/995/slash/0/menziarahi-kota-madinah-al-munawwarah61482/

Burhanuddin, A. (2012). Menyorot Shalat Arba’in di Masjid Nabawi | Muslim.Or.Id – Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah. Retrieved February 28, 2014, from http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyorot-shalat-arbain-di-masjid-nabawi.html


%d blogger menyukai ini: